1. ANALISIS PERMINTAAN DAN PENAWARAN DOMESTIK DAGING SAPI INDONESIA

SKRIPSI
ADITYA HADIWIJOYO
PROGRAM STUDI SOSIAL EKONOMI PETERNAKAN
FAKULTAS PETERNAKAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2009
RINGKASAN
ADITYA HADIWIJOYO. 2009. Analisis Permintaan dan Penawaran Domestik Daging Sapi Indonesia. Skripsi. Jurusan Sosial Ekonomi Peternakan.Fakultas Peternakan. Institut Pertanian Bogor.
Pembimbing Utama : Dr. Ir. Sri Mulatsih, MSc. Agr
Pembimbing Anggota : Ir. Burhanuddin, MM.
Protein adalah salah satu nutrien yang sangat penting bagi tubuh. Protein berfungsi sebagai zat pembangun Daging sapi sebagai salah satu sumber protein yang berasal dari hewan ternak sudah dikenal sebagai bahan pangan yang hampir lengkap dan sempurna. karena didalamnya terkandung berbagai macam zat gizi yang diperlukan tubuh. Konsumsi rata-rata daging sapi masyarakat Indonesia tahun 2007 mencapai 1,75 kg/kapita/tahun.
Tujuan penelitian ini adalah: 1) Mengetahui faktor-faktor yang menentukan permintaan daging sapi di Indonesia. 2) Mengetahui faktor-faktor yang menentukan penawaran daging sapi di Indonesia. 3) Menghitung nilai elastisitas permintaan dan penawaran daging sapi di Indonesia.
Penelitian mengenai permintaan dan penawaran daging sapi di Indonesia, dilaksanakan pada bulan Juni sampai bulan September tahun 2008. Jenis data yang digunakan dalam penelitian adalah data sekunder berupa data time series tahun 1990-2005 dari Badan Pusat Statistik dan Direktorat Jenderal Peternakan. Data kemudian diolah dengan menggunakan program eview 4.1 dan Microsoft Excel 2003.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa 1) permintaan daging sapi ditentukan oleh variabel-variabel independen yaitu harga daging domestik, harga ikan rata-rata, pendapatan per kapita, dan jumlah penduduk Indonesia, 2) penawaran daging sapi ditentukan oleh variabel-variabel independen yaitu harga daging domestik, produksi daging sapi domestik, harga sapi, dan jumlah populasi sapi, 3) Permintaan daging sapi bersifat inelastis terhadap harga ikan, pendapatan, dan harga daging sapi. Sedangkan penawaran daging sapi bersifat inelastis terhadap harga daging sapi dan harga sapi.
Kata kunci : Permintaan, penawaran, daging sapi, elastisitas.
1
ABSTRACT
DOMESTIC DEMAND AND SUPPLY ANALYSIS
FOR BEEF IN INDONESIA
Hadiwijoyo A., S. Mulatsih, and Burhanuddin
The aims of this research were: 1) to know the factors that determine beef demand in Indonesia 2) to know the factors that determine beef supply in Indonesia 3) to know beef demand and supply elasticity in Indonesia. The time series data in the periods for 15 years of 1990-2005 was used for this research from Badan Pusat Statistic. A dynamic model of Ordinary Least Square (OLS) method was used to analyze the data using Microsoft excel 2003 and Eview 4.1. The factors that determine beef demand and supply describe by quantitative description. This research held on June until September 2008. This research resulted several outputs: 1) Beef demand can be explained by its free variable which is beef domestic price, fish price, income per capita, and human population with each coefficient value – 4.4, 4.9, 36.4, and 1.8 and do not have problem with econometric test, statistic test, and economic test, 2) Beef supply can be explained by beef domestic price, domestic beef production, cattle price, and domestic cattle population with each coefficient value 2.8, 0.9, – 8.7, 0.04 and do not have problem with econometric test, statistic test, and economic test
Key words : demand, supply, beef, elasticity
2
ANALISIS PERMINTAAN DAN PENAWARAN DOMESTIK
DAGING SAPI INDONESIA
Oleh
ADITYA HADIWIJOYO
D 34104068
Skripsi ini telah disetujui dan disidangkan dihadapan
Komisi Ujian Lisan pada Tanggal 16 Maret 2009
Pembimbing Utama
Dr. Ir. Sri Mulatsih, MSc. Agr
NIP. 131.849.397
Pembimbing Anggota
Ir. Burhanuddin, MM
NIP. 132.232.454
Dekan Fakultas Peternakan
Institut Pertanian Bogor
Dr. Ir. Luki Abdullah, MSc. Agr
NIP. 131.955.531
3
ANALISIS PERMINTAAN DAN PENAWARAN DOMESTIK
DAGING SAPI INDONESIA
Oleh
ADITYA HADIWIJOYO
D 34104068
Skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk
Memperoleh gelar Sarjana Peternakan
Pada Fakultas Peternakan
Institut Pertanian Bogor
PROGRAM STUDI SOSIAL EKONOMI PETERNAKAN
FAKULTAS PETERNAKAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2009
4
RIWAYAT HIDUP
Penulis memiliki nama lengkap Aditya Hadiwijoyo dan dilahirkan pada tanggal 8 Juli 1986 di Jakarta. Penulis merupakan anak pertama dari tiga bersaudara pasangan Bapak Agus Setiono (alm) dan Ibu Umamah Fathoni.
Pada tahun 1992, penulis lulus dari Taman Kanak-Kanak Ananda kemudian melanjutkan ke Sekolah Dasar Muhammadiyah 12 Pamulang dan lulus pada tahun 1998. Pada tahun yang sama penulis melanjutkan ke Sekolah Menengah Pertama Negeri 1 Pamulang dan lulus pada tahun 2001. Pada tahun 2004 penulis lulus dari Sekolah Menengah Atas Negeri 74 Jakarta.
Penulis diterima dan terdaftar sebagai mahasiswa Institut Pertanian Bogor melalui jalur Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB) tahun 2004 pada Jurusan Sosial Ekonomi Peternakan dengan minat Ekonomi dan Perencanaan Peternakan, Fakultas Peternakan.
Selama menjadi mahasiswa penulis aktif dalam berbagai kegiatan kepanitiaan yang diselenggarakan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM-D) dan Himpunan Mahasiswa Sosial Ekonomi Industri Peternakan (HIMASEIP). Penulis pernah menjadi Sekertaris Departemen Keprofesian HIMASEIP tahun 2006 dan menjadi Ketua Umum HIMASEIP pada tahun 2007.
5
KATA PENGANTAR
Bismillahrrohmanirrohim
Puji dan syukut kehadirat Allah SWT Rob semesta alam yang senantiasa melimpahkan begitu banyak nikmat kepada seluruh umatNya. Salawat dan salam tak lupa juga penulis sampaikan kepada Nabi Muhammad SAW sehingga penulis dapat menyelesaikan penelitian dan skripsi yang berjudul “Analisis Permintaan dan Penawaran Domestik Daging Sapi Indonesia” sebagai syarat memperoleh gelar Sarjana Peternakan pada Program Studi Sosial Ekonomi Peternakan, Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor.
Penelitian ini dilakukan dengan tujuan mengetahui faktor-faktor yang menentukan dalam permintaan dan penawaran daging sapi Indonesia serta mengetahui nilai elastisitas nya.
Penulis menyadari bahwa tulisan ini masih sangat jauh dari sempurna, oleh karena itu penulis senantiasa menerima setiap saran dan kritik yang membangun guna memperbaiki tulisan ini. Semoga segala hal yang tertuang dalam tulisan ini dapat bermanfaat bagi para pembaca.
Bogor, Maret 2009
Penulis
6
DAFTAR ISI
Halaman
RINGKASAN……………………….. ……………………………………………………… i
ABSTRACT…………………………………………………………………………………… ii
RIWAYAT HIDUP………………………………………………………………………… iv
KATA PENGANTAR…………………………………………………………………….. v
DAFTAR ISI …………………………………………………………………………………. vi
DAFTAR TABEL ………………………………………………………………………….. viii
DAFTAR GAMBAR ……………………………………………………………………… ix
DAFTAR LAMPIRAN……………………………………………………………………. x
PENDAHULUAN ………………………………………………………………………… 1
Latar Belakang………………………………………………………………………. 1
Perumusan Masalah………………………………………………………………… 2
Tujuan Penelitian……………………………………………………………………. 3
Kegunaan Penelitian……………………………………………………………….. 3
KERANGKA PEMIKIRAN …………………………………………………………….. 4
TINJAUAN PUSTAKA…………………………………………………………………… 6
Daging Sapi …………………………………………………………………………… 6
Sapi Potong Indonesia …………………………………………………………….. 7
Faktor-Faktor yang Menentukan Permintaan………………………………. 8
Harga Barang Itu Sendiri …………………………………………………. 8
Harga Barang Lain yang Terkait (Substitusi) ……………………… 9
Pendapatan Rumah Tangga dan Masyarakat……………………….. 9
Cita Rasa (Selera) …………………………………………………………… 9
Jumlah Penduduk (Populasi) ……………………………………………. 9
Faktor-Faktor yang Menentukan Penawaran ………………………………. 10
Produksi Daging Sapi Potong……………………………………………. 11
Jumlah Populasi Sapi……………………………………………………….. 11
Biaya Produksi………………………………………………………………… 11
Harga Input…………………………………………………………………….. 12
Kemajuan Teknologi………………………………………………………… 12
Harga dari Barang Terkait ………………………………………………… 12
Elastisitas Permintaan dan Penawaran ……………………………………….. 13
Elastisitas Harga Permintaan…………………………………………….. 13
Elastisitas Harga Penawaran……………………………………………… 14
Elastisitas Silang……………………………………………………………… 14
Elastisitas Pendapatan………………………………………………………. 15
7
METODE PENELITIAN…………………………………………………………………. 16
Waktu Penelitian ……………………………………………………………………. 16
Data dan Instrumentasi ……………………………………………………………. 16
Metode Analisis………………………………………………………………………. 16
Analisis Regresi Linier Berganda………………………………………. 16
Uji Kriteria Statistik…………………………………………………………. 17
1. Uji -t ………………………………………………………………….. 17
2. Uji F …………………………………………………………………… 18
3. Uji R- Square ………………………………………………………. 18
Uji Kriteria Ekonometrika ……………………………………………….. 19
1. Autokorelasi………………………………………………………… 19
2. Normalitas …………………………………………………………… 19
3. Heteroskedastisitas ……………………………………………….. 19
Uji Kriteria Ekonomi ……………………………………………………….. 20
Analisis Respon (elastisitas) ……………………………………………. 20
1. Elastisitas Permintaan Harga…………………………………… 20
2. Elastisitas Penawaran Harga……………………………………. 20
3. Elastisitas Silang……………………………………………………. 21
4. Elastisitas Pendapatan…………………………………………….. 21
Definisi Istilah…………………………………………………………………. 22
HASIL PEMBAHASAN………………………………………………………………….. 23
Perkembangan Konsumsi dan Produksi Daging Sapi di Indonesia…. 23
Konsumsi Daging Sapi di Indonesia………………………….. 23
Produksi Daging Sapi di Indonesia…………………………………….. 24
Model Penduga Permintaan Daging…………………………………… 25
Analisis Model Permintaan……………………………………………………….. 28
Harga Daging Domestik…………………………………………………… 28
Harga Ikan……………………………………………………………………… 29
Pendapatan Per Kapita…………………………………………………….. 29
Jumlah Penduduk……………………………………………………………. 30
Model Penduga Penawaran Daging…………………………………… 30
Hasil Analisis Model Penawaran……………………………………………….. 32
Harga Daging Domestik…………………………………………………… 32
Produksi Daging Domestik……………………………………………….. 32
Harga Sapi……………………………………………………………………… 33
Jumlah Populasi Sapi………………………………………………………. 33
KESIMPULAN DAN SARAN………………………………………………………… 34
UCAPAN TERIMA KASIH…………………………………………………………….. 35
DAFTAR PUSTAKA………………………………………………………………………. 37
LAMPIRAN……………………………………………………………………………………. 40
8
DAFTAR TABEL
Nomor Halaman
1. Proyeksi konsumsi dan produksi daging sapi Indonesia
tahun 2005-2010……………………………………………………………. 8
2. Konsumsi Daging di Indonesia …………………………….. 23
3. Jumlah Penduduk dan Pendapatan per Kapita di Indonesia… 24
4. Produksi dan Impor Daging Sapi di Indonesia…………………… 25
5. Penduga Parameter Model Permintaan Daging Sapi…………… 26
6. Penduga Parameter Model Penawaran Daging Sapi……………. 30
9
DAFTAR GAMBAR
Nomor Halaman
1. Alur Kerangka Berpikir…………. …………………………. 6
2. Kurva Permintaan ………………………………………… 9
3. Kurva Penawaran ………………………………………… 11
10
DAFTAR LAMPIRAN
Nomor Halaman
1a. Output Regresi Persamaan Permintaan Daging…………………… 40
1b. Output Regresi Persamaan Penawaran Daging…………………… 40
2. Uji Serial Korelasi Persamaan Permintaan Daging………………. 41
3. Uji heteroskedastisitas Persamaan Permintaan Daging…………. 42
4. Uji Serial Korelasi Persamaan Penawaran Daging……………….. 43
5. Uji heteroskedastisitas Persamaan Penawaran Daging………….. 44
6. Variabel Permintaan dan penawaran Daging Sapi di Indonesia.. 45
7. Elastisitas permintaan dan penawaran…………………………. 46
8 Uji Normalitas Persamaan Permintaan Daging………………………. 48
9. Uji Normalitas Persamaan Permintaan Daging………………………. 49
11
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Daging sapi sebagai sumber protein yang berasal dari ternak hewan sudah dikenal sebagai bahan pangan yang hampir lengkap dan sempurna. karena didalamnya terkandung berbagai macam zat gizi yang diperlukan tubuh termasuk didalamnya protein hewani. Indonesia sebagai salah satu negara dengan jumlah penduduk terbesar keempat di dunia memiliki tingkat konsumsi protein yang masih relatif rendah dibanding negara lain, terutama dari daging sapi.
Konsumsi rata-rata daging sapi masyarakat Indonesia saat ini hanya mencapai 1,75 kg/kapita/tahun. Namun seiring dengan peningkatan jumlah penduduk, pertumbuhan ekonomi, dan pendidikan yang semakin baik, maka meningkat pula permintaan daging sapi di Indonesia.
Indonesia dengan jumlah penduduknya pada tahun 2007 yang mencapai sekitar 220 juta jiwa, total permintaan daging sapi domestik berarti mencapai 384.810 ton. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (2005) menyatakan, total produksi daging sapi dalam negeri hanya mencapai 271.840 ton atau 70,64 persen, sehingga masih ada kekurangan sekitar 112.970 ton atau 29,36 persen dari total kebutuhan dalam negeri. Kekurangan tersebut dipenuhi dengan melakukan impor.
Dengan kondisi seperti tersebut diatas maka potensi usaha peternakan memiliki peluang sangat besar untuk lebih dikembangkan di Indonesia. Pengembangan usaha tersebut di Indonesia khususnya ternak sapi difokuskan dalam rangka memenuhi konsumsi daging sapi potong dalam negeri dan meningkatkan produksi daging dari dalam negeri. Hal tersebut sejalan dengan Program Revitalisasi Pertanian Perikanan dan Kehutanan (RPPK) yang dicanangkan oleh pemerintah sejak tahun 2005 yang lalu.
Melalui segala upaya yang dilakukan pemerintah bersama-sama dengan masyarakat, diharapkan bangsa Indonesia mampu menjadikan sektor pertanian, termasuk didalamnya subsektor peternakan sebagai leading sector dalam rangka membangun kehidupan bangsa yang lebih sejahtera, sehingga Indonesia bisa bangkit dari keterpurukan dan menjadi negara yang maju dalam segala bidang termasuk dalam hal ekonomi. Atas dasar hal-hal yang disebutkan diatas maka penelitian ini
12
menganalisis tentang variabel-variabel yang mempengaruhi permintaan dan penawaran daging sapi potong di Indonesia.
Perumusan Masalah
Kebutuhan daging masyarakat saat ini tidak dapat dipenuhi oleh produksi daging sapi dalam negeri. Hal tersebut terjadi karena jumlah penduduk Indonesia sudah mencapai 220 juta jiwa dan tingkat konsumsi daging sapi masyarakat sebesar 1,75 kg/kapita/tahun. Dengan asumsi tersebut maka total konsumsi daging sapi oleh masyarakat mencapai 385.000 ton/tahun, sementara produksi daging sapi lokal hanya 271.000 ton. Artinya masih ada kesenjangan antara kebutuhan masyarakat dengan produksi daging sapi lokal yang besarnya mencapai 114.000 ton
Dalam rangka memenuhi kebutuhan permintaan tersebut pemerintah meluncurkan program Revitalisasi Pertanian Perikanan dan Kehutanan (RPPK). RPPK dalam salah satu tujuannya mencanangkan Indonesia akan mampu memenuhi kebutuhan daging sapi nasional dari produksi dalam negeri (swasembada) pada tahun 2010, dan sedikit demi sedikit mengurangi impor. Upaya mengurangi impor daging dapat didekati dari dua sisi yaitu sisi permintaan dan sisi penawaran. Dari sisi permintaan dapat dilakukan dengan meningkatkan konsumsi untuk disubstitusi dengan sumber protein lain. Dari sisi penawaran dengan meningkatkan produksi daging ditingkat peternak. Berdasarkan uraian diatas maka rumusan permasalahannya adalah:
1. Apa faktor-faktor yang menentukan jumlah permintaan daging sapi di Indonesia?
2. Apa faktor-faktor yang menentukan jumlah penawaran daging sapi di Indonesia?
3. Bagaimana elastisitas (respon) harga, elastisitas silang, dan elastisitas pendapatan terhadap permintaan dan penawaran daging sapi di Indonesia? 13
Tujuan
Dari permasalahan yang telah dirumuskan, maka ada tiga hal yang menjadi tujuan dilakukannya peneltian ini, yaitu:
1. Mengetahui faktor-faktor yang menentukan permintaan daging sapi di Indonesia.
2. Mengetahui faktor-faktor yang menentukan penawaran daging sapi di Indonesia.
3. Menghitung elastisitas yang terjadi pada permintaan dan penawaran daging sapi di Indonesia.
Kegunaan Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat dan berguna bagi ;
1. Pelaku usaha peternakan sebagai informasi dalam rangka meningkatkan usahanya untuk dapat meningkatkan produksi dalam negeri
2. Pemerintah sebagai bahan rujukan dalam menentukan kebijakan terutama dalam bidang pertanian dan perternakan
3. Peneliti selanjutnya sebagai bahan masukan dan pembanding untuk penelitian yang lebih mendalam. 14
KERANGKA PEMIKIRAN
Subsektor peternakan sebagai bagian dari sektor pertanian memiliki peran yang sangat penting. Subsektor peternakan harus menjadi prioritas dalam rangka membangun perekonomian Negara Indonesia karena subsektor peternakan memiliki peran dalam menyediakan kebutuhan konsumsi protein masyarakat, terutama dari daging sapi.
Konsumsi rata-rata daging sapi masyarakat Indonesia sebesar 1,75 Kg/kapita/tahun, dengan jumlah penduduk Indonesia tahun 2007 yang mencapai 220 juta jiwa, maka dapat dihitung kebutuhan daging sapi masyarakat sebesar 385.000 ton/tahun, sementara berdasarkan data Direktorat Jenderal Peternakan total produksi daging sapi lokal hanya mencapai 271.000 ton atau 70,4 persen. Kekurangan pasokan yang mencapai 114.000 ton atau sebesar 29,6 persen dipenuhi dengan mendatangkan daging sapi impor.
Ketergantungan terus menerus terhadap impor akan merugikan posisi ekonomi Indonesia sendiri. Melalui program RPPK pemerintah berencana meningkatkan produksi daging sapi lokal dalam rangka memenuhi kebutuhan daging sapi domestik. Oleh karena itu perlu diketahui faktor-faktor yang mempengaruhi produksi.
Disisi lain permintaan daging sapi juga perlu disubstitusi dengan sumber protein lain. Dengan mengetahui variabel-variabel yang mempengaruhi permintaan dan penawaran, maka dapat dirumuskan strategi untuk mengurangi impor dan meningkatkan produksi daging ditingkat peternak rakyat.
Permintaan dan penawaran daging sapi dianalisis dengan menggunakan analisis regresi linier berganda dan analisis elastisitas. Hasil analisis regresi linier berganda akan didapatkan seberapa besar pengaruh faktor-faktor tersebut terhadap permintaan dan penawaran, sementara dari hasil analisis elastisitas akan diketahui bagaimana elastisitas (respon) terhadap permintaan dan penawaran. Kerangka pemikiran penelitian dapat dilihat pada Gambar 1.
15
Sektor pertanian
Subsektor peternakan
Penyedia kebutuhan daging nasional
Adanya kesenjangan antara produksi dalam negeri dan konsumsi
Permintaan
Penawaran
Faktor yang menentukan:
• Harga daging sapi
• Harga ikan rata-rata
• Pendapatan perkapita
• Jumlah penduduk
Faktor yang menentukan:
• Produksi daging
• Harga daging sapi
• Harga sapi domestik
• Jumlah Populasi Sapi
• Analisis regresi linier berganda
• Analisis elastisitas
Implikasi kebijakan
Gambar 1. Alur kerangka berpikir
Keterangan: = Fokus Penelitian
16
TINJAUAN PUSTAKA
Daging Sapi
Daging merupakan jaringan hewan yang dapat digunakan sebagai bahan makanan termasuk didalamnya adalah jaringan otot, organ-organ seperti hati, limpa, ginjal dan otak Komponen utama daging antara lain otot lemak intramuskuler (marbling), sejumlah jaringan ikat (kolagen, elastin, dan retikulum), serta pembuluh darah epitel dan syaraf (Lawrie, 2003).
Permintaan daging sapi di pasar domestik cukup tinggi dan selalu meningkat dari tahun ketahun, seiring dengan pertambahan jumlah penduduk, peningkatan income dan kesadaran masyarakat akan pentingnya protein hewani. Konsumsi daging per kapita tahun 2007 meningkat 4,8 persen dibandingkan tahun sebelumnya Konsumsi tahun 2006 sebesar 6,3 kg per kapita dan tahun 2007 meningkat menjadi 6,6 kg per kapita (Direktorat Jenderal Peternakan, 2007)
Kondisi impor daging dalam beberapa tahun terakhir jumlahnya terus meningkat, kecuali sesaat setelah krisis tahun 1997. Menurut laporan ACIAR tahun 2002 dalam Badan Penelitian Pengembangan Pertanian (2005), pada tahun 2000 perbandingan impor daging, jerohan dan sapi hidup mendekati 1:1:1. Sementara itu pada tahun 2002 impor sapi hidup telah mencapai lebih 420.000 ekor. Namun akhir-akhir ini telah terjadi perubahan (penurunan impor) yang cukup signifikan. Kondisi ini telah menyebabkan harga daging di dalam negeri sangat baik dan merangsang usaha peternak sapi di pedesaan (Badan Penelitian Pengembangan Pertanian, 2005).
Proyeksi konsumsi dan produksi daging sapi potong Indonesia tahun 2005-2010 dapat dilihat pada Tabel 1.
17
Tabel 1. Proyeksi Konsumsi dan Produksi Daging Sapi Indonesia tahun 2005-2010
Tahun
Produksi Daging Domestik (ton)
Konsumsi (Ton)
2005
271.840
378.930
2006
288.430
399.660
2007
314.300
421.520
2008
328.610
444.580
2009
423.730
468.900
2010
483.640
499.550
Sumber: Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (2005)
Sapi Potong Indonesia
Ada tiga bangsa sapi potong utama di Indonesia, yaitu sapi Ongole, sapi Bali, dan sapi Madura serta hasil-hasil persilangannya baik yang sudah diakui sebagai suatu bangsa atau galur, maupun yang belum. Sapi potong yang paling tinggi populasinya diantara ketiga bangsa tersebut adalah Ongole, khususnya Peranakan Ongole (PO), yang merupakan hasil grading up dari sapi Jawa (Pane, 2003)
Sapi PO dan Ongole yang mempunyai tanda-tanda punuk besar dengan lipatan-lipatan kulit yang terdapat dibawah leher dan perut, telinga panjang menggantung, tanduk pendek, namun yang betina lebih panjang dari yang jantan, warna bulu putih atau putih kehitaman dengan warna kulit kuning. Penyebaran sapi PO hampir masuk ke seluruh Jawa, dan berbagai wilayah di Sumatera dan Sulawesi (Talib dan Siregar, 1998). Menurut Sugeng (2000) bahwa sapi Ongole yang ada pada saat ini populasinya terbanyak diantara bangsa-bangsa sapi Indonesia. Sapi Ongole pertama kali didatangkan dari India ke Pulau Sumba oleh pemerintah Belanda pada tahun 1897.
18
Faktor-Faktor yang Menentukan Permintaan
Menurut Samuelson dan Nordhaus (2003) permintaan atau kurva permintaan adalah hubungan antara harga dengan kuantitas yang dibeli. Ada suatu hubungan yang pasti antara harga pasar dari suatu barang dengan kuantitas yang diminta dari barang tersebut asalkan hal-hal lain tidak berubah. Banyaknya barang yang dibeli orang tergantung pada harganya, makin tinggi harga suatu barang maka semakin sedikit unit yang diinginkan konsumen untuk dibeli (ceteris paribus). Makin rendah harga pasarnya, makin banyak unitnya yang ingin dibeli. Seperti terlihat pada Gambar 2.
00.511.522.53(P)
Gambar 2. kurva permintaan
Sukirno (1995) menyatakan bahwa teori permintaan menerangkan tentang ciri hubungan antara jumlah permintaan dan harga. Besarnya permintaan masyarakat atas suatu barang ditentukan oleh banyak faktor yaitu: (1) harga barang itu sendiri, (2) harga barang lain, (3) pendapatan rumah tangga dan masyarakat, (4) distribusi pendapatan dalam masyarakat, (5) cita rasa masyarakat, (6) jumlah penduduk, dan (7) ramalan akan keadaan dimasa yang akan datang.
Harga Barang itu Sendiri
Hasil penelitian (Khoirunissa, 2008) pada taraf nyata kepercayaan 99%, ketika terjadi penurunan harga daging ayam broiler sebesar Rp 982/Kg maka terjadi peningkatan jumlah permintaan daging ayam broiler oleh keluarga sebesar 1 Kg/bulan. Artinya hal tersebut sesuai dengan teori permintaan yang disebutkan 19
dalam (Lipsey et al, 1995) yaitu ketika semakin rendah harga suatu komoditi maka jumlah yang akan diminta semakin besar dan sebaliknya.
Harga Barang Lain yang Terkait (Substitusi )
Sebuah hubungan penting terutama sekali ada pada barang-barang yang mempunyai hubungan substitusi, yaitu barang-barang yang cenderung mempunyai fungsi yang sama seperti cornflakes dan oatmeal (Samuelson and Nordhaus, 2003).
Dengan adanya peningkatan harga daging sapi sebesar Rp 329/Kg maka jumlah permintaan daging ayam broiler pada konsumen keluarga juga naik sebesar 1 Kg/bulan (Khoirunissa, 2008)
Pendapatan Rumah Tangga dan Masyarakat
Pendapatan rata-rata dari konsumen sangat menentukan permintaan. Apabila pendapatan masyarakat naik, maka individu-individu cenderung membeli hampir segala sesuatu dalam jumlah yang lebih banyak, sekalipun harga-harga tidak berubah. Pembelian mobil cenderung lebih meningkat tajam bersamaan dengan tingkat pendapatan yang lebih tinggi (Samuelson and Nordhaus, 2003). Dalam penelitian Khoirunissa (2008) tentang permintaan daging ayam broiler konsumen keluarga di Kecamatan Pancoran Mas Kota Depok tingkat pendapatan berpengaruh nyata pada α 99%, bahwa dengan naiknya pendapatan akan meningkatkan permintaan.
Cita Rasa (Selera)
Lipsey et al., (1995) mengemukakan bahwa selera berpengaruh besar terhadap keinginan orang untuk membeli. Lebih lanjut dikatakan bahwa perubahan selera bisa terjadi dalam waktu yang lama atau cepat, tetapi cepat atau lambatnya perubahan selera terhadap suatu komoditi akan menyebabkan lebih banyaknya komoditi yang akan dibeli pada setiap tingkat harga. Hasil penelitian Indarsyah (2006) tentang permintaan daging ayam broiler pada konsumen keluarga di Kecamatan Pamulang Tangerang menyatakan selera berpengaruh nyata terhadap permintaan.
Jumlah Penduduk (Populasi)
Besarnya pasar yang diukur biasanya dengan jumlah penduduk. Jumlah penduduk suatu daerah jelas menentukan kurva permintaan pasar. 32 juta penduduk
20
California cenderung membeli 32 kali lebih banyak apel dibandingkan satu juta penduduk Rhode Island (Samuelson dan Nordhaus, 2003)
Dari hasil penelitian Indarsyah (2006) terhadap permintaan daging ayam broiler pada konsumen keluarga di Kecamatan Pamulang Tangerang menyatakan jumlah anggota keluarga mempunyai pengaruh nyata terhadap permintaan.
Faktor-Faktor yang Menentukan Penawaran
Sisi penawaran dari sebuah pasar selalu menyangkut hubungan yang didalamnya para pelaku bisnis menghasilkan dan menjual produk-produknya. Penawaran suatu barang menginformasikan kepada kita mengenai jumlah barang yang akan dijual pada setiap tingkat harga barang tersebut. Secara lebih tepat kurva penawaran menghubungkan kuantitas yang ditawarkan dari sebuah barang dengan harga pasarnya, sementara hal-hal lain konstan (ceteris paribus). Dalam mempertimbangkan penawaran, hal-hal lain yang dianggap konstan adalah biaya produksi, harga barang terkait, dan kebijakan pemerintah (Samuelson dan Nordhaus, 2003). McConnell (1990) menyebutkan hukum penawaran bersifat positif , ketika harga meningkat jumlah barang yang ditawarkan meningkat dan ketika harga turun jumlah barang yang ditawarkan menurun, seperti pada Gambar 3.
00.511.522.533.
Gambar 3. Kurva penawaran
Untuk memeriksa kekuatan-kekuatan yang menentukan kurva penawaran, hal mendasar yang perlu dipahami ialah bahwa para produsen menawarkan komoditi-komoditinya dengan tujuan mencari keuntungan dan bukan untuk kesenangan atau amal. Penawaran suatu barang ditentukan oleh faktor-faktor diantaranya: biaya 21
produksi, harga input, kemajuan teknologi, dan harga-harga barang terkait (Samuelson dan Nordhaus, 2003).
Produksi Daging Sapi Potong
Produktivitas ternak sapi potong di Indonesia sebagai salah satu sumber daging belum memenuhi kebutuhan karena jumlahnya masih dibawah target yang diperlukan konsumen. Faktor yang menyebabkan produksi daging masih rendah adalah rendahnya populasi ternak sapi dan juga tingkat produksi sapi yang masih rendah (Sugeng, 2000)
Tingkat produksi juga sangat dipengaruhi oleh segi reproduksi. Sistem reproduksi jantan dan betina belum berfungsi sempurna sebelum seekor sapi mencapai masak kelamin (pubertas). Pada ternak betina bangsa sapi Eropa pubertas mulai timbul pada umur 6-18 bulan, sementara pada bangsa sapi Asia pada umur 12-30 bulan. Umur yang dianjurkan pada perkawinan pertama sapi potong adalah 14-22 bulan. Jarak beranak (Calving interval) adalah periode waktu antara dua kelahiran yang berurutan (Sarwono dan Arianto, 2003) )
Jumlah Populasi Sapi
Jumlah populasi sapi adalah salah satu faktor yang menentukan jumlah penawaran daging sapi domesik. Populasi sapi di Indonesia tahun 2005 mencapai jumlah 10,6 juta ekor, yang tersebar di Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi, sebagian Sumatera, dan Kalimantan (Direktorat Jenderal Peternakan, 2006). Sebagian besar usaha ternak di Indonesia atau sekitar 75 persen masih dilakukan oleh peternakan rakyat yang skala usahanya hanya 1-5 ekor dan usaha peternakan juga dilakukan sebagai hanya sebagai usaha sampingan. Pemotongan sapi merupakan hal yang mempengaruhi jumlah populasi, pemotongan dilakukan hanya dilakukan untuk memenuhi konsumsi dalam negeri. Untuk produksi daging, pemotongan rata-rata sebesar 13,4 persen dari populasi awal per tahun, dengan komposisi sapi betina 37,3 persen dan sapi jantan 62,7 persen (Direktorat Jenderal Peternakan, 2003).
Biaya Produksi
Samuelson dan Nordhaus (2003) juga menyebutkan salah satu unsur utama yang mendasari kurva penawaran adalah harga biaya produksi. Apabila biaya produksi untuk barang rendah, relatif terhadap pasar, maka menguntungkan bagi para
22
produsen untuk menawarkan dalam jumlah yang banyak. Apabila produksi tinggi, relatif terhadap harga, perusahaan-perusahaan memproduksi sedikit, beralih ke produksi produk-produk lain.
Harga Input
Penurunan harga input akan menurunkan biaya produksi sehingga penawaran akan suatu barang akan meningkat, hal tersebut sesuai dengan kurva penawaran. Contoh: jika harga benih dan pupuk turun, kita dapat menduga bahwa penawaran jagung akan meningkat. Sebaliknya, kenaikan harga input akan meningkatkan biaya produksi dan mengurangi jumlah penawaran, sehingga kurva penawaran bergeser ke kiri (McConnell, 1990)
Hasil penelitian Suryani (2006) mengenai permintaan dan penawaran daging ayam broiler di Indonesia menyebutkan bahwa harga pakan sebagai input produksi daging ayam broiler mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap penawaran daging ayam broiler yaitu sebesar 0,003 pada α = 0,01 dan memiliki hubungan negatif terhadap penawaran daging ayam broiler.
Kemajuan Teknologi
Kemajuan teknologi berarti adanya penemuan ilmu baru sehingga membuat kita dapat memproduksi satu unit output lebih efisien, artinya input yang digunakan lebih sedikit (McConnell, 1990). Contoh dalam Samuelson dan Nordhaus (2003) adalah pabrikan lebih efisien pada dasawarsa terakhir. Dibutuhkan jam kerja yang lebih sedikit untuk memproduksi sebuah mobil dewasa ini dibandingkan sepuluh tahun lalu. Kemajuan ini memungkinkan para produsen mobil menghasilkan lebih banyak mobil dengan biaya yang sama
Dalam penelitian Suryani (2006) mengenai permintaan dan penawaran daging ayam broiler di Indonesia, kemajuan teknologi berpengaruh signifikan sebesar 0,004 pada α = 0,01 dan mempunyai hubungan positif, artinya jika ada kemajuan teknologi maka akan ada peningkatan penawaran.
Harga dari Barang Terkait
Biaya produksi bukan unsur satu-satunya yang masuk ke dalam kurva penawaran. Penawaran juga dipengaruhi oleh harga-harga dari barang terkait, khususnya barang-barang yang merupakan output-output alternatif dari proses produksi. Jikalau harga satu substitut produksi meningkat, penawaran substitut lain 23
akan menurun (Samuelson dan Nordhaus, 2003). Misal dalam McConnell (1990) penurunan harga gandum menyebabkan petani akan memproduksi dan menawarkan lebih banyak jagung pada tingkat harga tertentu, sebaliknya jika harga gandum naik, maka petani akan mengurangi produksi dan penawaran jagung di pasar.
Dalam Idaman (2008) harga benih ikan nila ukuran 5-8 cm mempunyai hubungan negatif terhadap penawaran benih ikan nila ukuran 3-5 cm dengan nilai koefisien sebesar – 0,135. Artinya jika harga benih ikan nila ukuran 5-8 cm turun maka penawaran benih ikan nila ukuran 3-5 cm naik.
Elastisitas Permintaan dan Penawaran
Konsep elastisitas merupakan hubungan kuantitatif antara harga dan kuantitas yang dibeli. Pada model yang dinamis dapat dihitung elastisitas jangka pendek dan jangka panjang (Samuel dan Nordhaus, 2003). Elastisitas adalah persentase perubahan jumlah yang diminta dibagi dengan persentase perubahan harga yang menyebabkannya. Perubahan persentase biasanya dihitung sebagai perubahan dibagi oleh nilai rata-rata (lipsey et al., 1995).
Elastisitas Harga Permintaan
Para ekonom mengukur bagaimana tingkat respon atau sensitivitas konsumen terhadap perubahan harga produk dengan dengan konsep elastisitas harga (McConnell, 1990). Elastisitas harga permintaan mengukur berapa banyak kuantitas yang diminta dari sebuah barang akan berubah apabila harganya berubah. Definisi yang tepat dari elastisitas harga adalah persentase perubahan dalam kuantitas yang diminta dibagi dengan persentase perubahan dalam harga (Samuelson dan Nordhaus, 2003)
Nilai elastisitas harga daging ayam broiler sebesar -2,335 terhadap permintaan daging ayam broiler di Kecamatan Pancoran Mas Depok, artinya dengan kenaikan harga sebesar 1% maka permintaan daging ayam broiler akan turun sebesar 2,335 % ceteris paribus (Khoirunissa, 2008)
Kita dapat menghitung koefisien elastisitas harga menurut rumus berikut:
Ed = Persentase perubahan pada kuantitas yang diminta
Persentase perubahan pada harga
24
Elastisitas Harga Penawaran
Para pelaku bisinis juga memiliki kepekaan dalam dalam mengambil keputusan terkait dengan berapa banyak barang yang (harus) diproduksi. Para ekonom mendefinisikan elastisitas harga penawaran sebagai kepekaan kuantitas yang ditawarkan dari sebuah barang terhadap harga pasarnya. Elastisitas harga penawaran adalah presentase perubahan pada kuantitas yang ditawarkan dibagi dengan persentase perubahan pada harga (Samuelson dan Nordhaus, 2003).
Dalam Idaman (2008) elastisitas harga penawaran benih ikan nila ukuran 3-5 cm memiliki nilai 0,001385. Artinya harga benih ikan nila ukuran 3-5 cm ini bersifat inelastis karena nilai elastisitasnya yang kurang dari satu.
Rumus untuk menghitung elastisitas harga penawaran adalah sebagai berikut:
Es = Persentase perubahan pada kuantitas yang ditawarkan
Persentase perubahan pada harga
Elastisitas Silang
Elastisitas silang adalah persentase perubahan jumlah barang yang diminta diakibatkan oleh perubahan harga barang lain sebesar satu persen. Apabila fungsi permintaan diketahui beasaran nilainya, maka elastitas dapat dihitung dengan cara menurunkan fungsi permintaan terhadap barang lain, lalu dikalikan dengan rata-rata harga barang lain dibagi rata-rata jumlah barang yang diminta. Apabila nilainya lebih besar dari nol maka kedua barang tersebut mempunyai hubungan substitusi, bila nilainya lebih kecil dari nol maka hubungan keduanya komplementer.
Barang substitusi memiliki nilai elastisitas positif. Artinya kenaikan barang substitusi berakibat meningkatnya jumlah yang diminta untuk barang ini (dan untuk barang substitusinya berkurang). Barang komplementer elastisitas negatif, artinya kenaikan harga komplemen berakibat turunnya jumlah yang untuk barang ini (juga untuk barang komplemennya). Hasil penelitian Khoirunissa (2008) menunjukkan nilai elastisitas silang daging sapi sebesar 6,32 artinya dengan meningkatnya harga daging sapi sebesar 1% maka permintaan akan daging ayam broiler naik sebesar 6,32%
25
Elastisitas Pendapatan
Elastisitas permintaan pendapatan adalah presentase perubahan permintaan akan suatu barang yang diakibatkan oleh kenaikan income riil konsumen sebesar satu persen, jika fungsi permintaan diketahui maka besar nilai elastisitas pendapatan dapat ditentukan dengan cara menurunkan fungsi permintaan tersebut terhadap variabel pendapatan, lalu dikalikan rata-rata besaran pendapatan dibagi rata-rata jumlah barang yang diminta. Untuk barang normal nilai elastistasnya lebih besar dari nol, untuk barang inferior kurang dari nol, barang kebutuhan pokok antara nol sampai satu dan untuk barang superior lebih besar dari satu.
Dalam Khoirunissa (2008) menunjukkan nilai elastisitas permintaan daging ayam broiler sebesar terhadap pendapatan sebesar 0,447 artinya jika pendapatan naik 1%, maka permintaan naik 0,447%. Elastisitas pendapatan bernilai positif antara nol sampai satu sehingga daging ayam broiler disebut barang normal.
26
METODE PENELITIAN
Waktu Penelitian
Penelitian mengenai permintaan dan penawaran daging sapi potong di indonesia, dilaksanakan pada bulan Juni sampai bulan September tahun 2008 meliputi penyusunan proposal, pengumpulan data, pengolahan data, analisis data dan penulisan laporan dalam bentuk skripsi.
Data dan Instrumentasi
Jenis data yang digunakan dalam penelitian adalah data sekunder berupa data time series tahun 1990-2005 dari Badan Pusat Statistik dan Direktorat Jenderal Peternakan. Disamping data dari data time series tahun 1990-2005 juga digunakan data lainnya, seperti teori-teori yang menunjang dan literatur yang diperoleh di Perpustakaan Pusat IPB. Data kemudian diolah dengan menggunakan program eview 4.1 dan Microsoft Excel 2003.
Metode Analisis
Penelitian ini menggunakan alat analisis regresi linier berganda (multiple regression) dan analisis respon (elastisitas). Menurut Sulaiman (2004) analisis regresi berganda digunakan untuk melihat hubungan variabel dependen dengan lebih dari satu variabel independen.
Analisis Regresi Linier Berganda
Analisis penggunaan regresi linier berganda ini memungkinkan untuk menganalisis faktor-faktor apa saja yang secara signifikan menentukan permintaan dan penawaran.
Bentuk umum fungsi permintaan dan penawaran adalah:
YD = f (HDD, HI, PPK, JPI)
YS = f (HDD, PDD, HS, JPS)
Dimana:
YD = Jumlah permintaan daging domestik (Ton)
YS = Jumlah penawaran daging domestik (Ton)
HDD = Harga daging domestik (000 Rp/ton)
27
HI = Harga ikan rata-rata (000 Rp/ton)
PPK = Pendapatan perkapita (000 Rp/Bulan)
JPI = Jumlah penduduk Indonesia (000 jiwa)
HS = Harga sapi domestik (000 Rp/Ton)
PDD = Produksi daging sapi domestik (Ton)
JPS = Jumlah populasi sapi (ekor)
Untuk melakukan estimasi model regresi linier berganda, maka data yang ada diregresikan sehingga menjadi fungsi linier sebagai berikut:
YD = a + b1HDD + b2HI + b3PPK + b4JPI
YS = a + b1HDD + b2PDD + b3HS + b4JPS
Dimana:
YD = Jumlah permintaan daging domestik (Ton)
YS = Jumlah penawaran daging domestik (Ton)
a = Konstanta
b = Koefisien regresi variabel bebas
HDD = Harga daging domestik (000 Rp/ton)
HI = Harga ikan rata-rata (000 Rp/ton)
PPK = Pendapatan perkapita (000 Rp/Bulan)
JPI = Jumlah penduduk Indonesia (000 jiwa)
HS = Harga sapi domestik (000 Rp/Ton)
PDD = Produksi daging sapi domestik (Ton)
JPS = Jumlah populasi sapi (ekor)
Uji Kriteria Statistik
Untuk memperoleh hasil yang baik dan model yang layak maka perlu dilakukan uji statistik. Uji ini meliputi uji-t, uji F, dan R-square (R2).
1. Uji-t
Digunakan untuk melihat nyata atau tidaknya pengaruh variabel independen (bebas) terhadap permintaan dan penawaran daging sapi potong (Y).
Prosedur pengujiannya adalah sebagai berikut:
H0 : bi = 0 (tidak berpengaruh nyata)
28
H1 : bi ≠ 0 (berpengaruh nyata)
t-hitung = Sbibi0−
Apabila t- hitung < t-tabel (α) maka H0 diterima artinya variabel independen tidak berpengaruh nyata terhadap Y pada taraf kepercayaan (1-α). Apabila t- hitung > t-tabel (α) maka H0 ditolak artinya variabel independen berpengaruh nyata terhadap Y pada taraf kepercayaan (1-α).
2. Uji F
Digunakan untuk mengetahui pengaruh variabel-variabel bebas secara simultan terhadap permintaan dan penawaran daging sapi (Y)
Prosedur pengujiannya adalah sebagai berikut:
H0 : b1 = b2 = b3 = 0 (tidak berpengaruh nyata)
H1 : b1 ≠ 0 atau b2 ≠ 0 atau b3 ≠ 0 (berpengaruh nyata)
F hitung = )/()1/(knJKSkJKR−−
Dimana:
JKR = Jumlah kuadrat regresi
JKS = Jumlah kuadrat sisa
k = Jumlah variabel
n = Jumlah sampel
Apabila F- hitung < F-tabel (α)/(k, n-k) maka H0 diterima artinya secara simultan semua variabel independen tidak berpengaruh nyata terhadap Y. Apabila F- hitung > F-tabel (α)/(k, n-k) maka H0 ditolak artinya secara simultan semua variabel independen berpengaruh nyata terhadap Y
3. Uji R-Square
digunakan untuk mengukur tingkat kelayakan model. Koefisien tersebut menjelaskan secara total variasi dalam variabel dependen (Y) yang dijelaskan oleh seluruh variabel independen dalam model. Koefisen determinasi mempunyai nilai antara nol sampai
29
satu (0 ≤ R2 ≤ 1), semakin besar R-square (mendekati satu) maka model semakin baik, dan semakin mendekati nol maka model semakin tidak layak karena variabel independen secara keseluruhan tidak bisa menjelaskan permintaan dan penawaran daging sapi potong.
Uji Kriteria Ekonometrika
Dalam melakukan estimasi model regresi linier berganda maka harus dipenuhi kriteria nilai parameter yang BLUE (Best, Linear, Unbiased, Estirmator). Kriteria yang diuji meliputi Autokorelasi, normalitas, dan heteroskedastisitas.
1. Autokorelasi
Istilah autokorelasi dapat didefinisikan sebagai korelasi antar anggota serangkaian observasi yang diurutkan menurut waktu (time series) atau cross section. Persamaan dalam penelitian ini menggunakan data time series. Masalah autokorelasi sering timbul pada data runtut. Autokorelasi sering disebut juga korelasi serial. Penyebab utama timbulnya autokorelasi adalah kesalahan spesifikasi, misalnya terabaikannya suatu variabel penting atau bentuk fungsi yang tidak tepat.
2. Normalitas
Salah satu cara mendeteksi normalitas adalah dengan plot probabilitas normal. Melalui plot ini masing-masing nilai pengamatan dipasangkan dengan nilai harapan dari distribusi normal. Jika residual berasal dari distribusi normal, maka nila-nilai data (titik-titik dalam grafik) akan terletak disekitar garis diagonal.
3. Heteroskedastisitas
Asumsi yang dipakai dalam penerapan model regresi linier adalah variannya konstan. Heteroskedastisitas adalah keadaan dimana asumsi diatas tidak tercapai. Dampak adanya heteroskedastisitas adalah tidak efisiennya proses estimasi, sementara hasil estimasinya sendiri tetap konsisten dan tidak bias.
30
Masalah heteroskedastisitas ini akan mengakibatkan hasil uji-t dan uji F dapat menjadi tidak berguna (misleading).
Untuk mengetahui adanya heteroskedastisitas yaitu dengan cara membuat scatter plot dari model persamaan regresi. Jika membentuk pola tertentu seperti bergelombang, melebar, kemudian menyempit, dan sebagainya maka terjadi heteroskedastisitas, sebaliknya jika terjadi pembentukan pola yang jelas, serta titik-titik tersebar di atas dan di bawah angka nol pada sumbu y, maka tidak terjadi heteroskedastisitas
Uji Kriteria ekonomi.
Penentuan variabel model regresi dan pengujian hipotesis pada kriteria ekonomi dianalisis sesuai dengan teori permintaan dan penawaran sesuai dengan ilmu ekonomi.
Analisis Respon (Elastisitas)
Dilakukan untuk mengetahui persentase perubahan kenaikan atau penurunan jumlah daging sapi potong jika terjadi perubahan permintaan dan penawaran.
1. Elastisitas permintaan harga dihitung dengan menggunakan rumus:
Ed = 1dxdyx YX1
Dimana:
1dxdy = turunan pertama fungsi permintaan terhadap harga daging sapi
X1 = Rata-rata harga daging sapi (000 Rp/ton)
Y = Jumlah permintaan daging sapi (Ton/tahun)
2. Elastisitas penawaran harga dihitung dengan menggunakan rumus:
Es = 2dxdyx YX2
Dimana: 2dxdy = turunan pertama fungsi penawaran terhadap harga daging sapi
X2 = Rata-rata harga daging sapi (000 Rp/ton)
Y = Jumlah permintaan daging sapi (Ton/tahun)
31
3. Elasitas silang dihitung dengan menggunakan rumus
Es = 3dxdyx YX3
Dimana: 3dxdy = turunan pertama fungsi permintaan terhadap harga daging sapi
X3 = Rata-rata harga ikan (000 Rp/ton)
Y = Jumlah permintaan daging sapi (Ton/tahun)
4. Elastisitas pendapatan dihitung dengan rumus
Ep = 3dxdyx YX3
Dimana: 3dxdy = turunan pertama fungsi permintaan terhadap harga daging sapi
X3 = Rata-rata pendapatan per kapita (Rp/bulan)
Y = Jumlah permintaan daging sapi (Ton/tahun).
Nilai suatu elastisitas tak terbatas dan bisa positif atau negatif. Pada umumnya nilai elastisitas yang besar berimplikasi pada variabel endogen yang menjadi sangat responsif terhadap perubahan variabel eksogen. Apabila nilai elastisitas lebih besar dari satu (E > 1) maka dikatakan elastis (responsif). Apabila nilai elastisitas antara antara nol dan satu (0 < E < 1), maka dikatakan inelastis. Apabila nilai elastisitasnya sama dengan nol (E = 0) dikatakan inelastis sempurna. Apabila nilai elastisitasnya sama dengan satu (E = 1) dikatakan unitary elastis. Dan apabila nilai elastisitas tak terhingga (E = ~) dikatakan elastis sempurna.
32
HASIL PEMBAHASAN
Perkembangan Konsumsi dan Produksi Daging Sapi di Indonesia
Konsumsi Daging Sapi di Indonesia
Konsumsi daging sapi selama periode 1990 hingga 2005 secara umum mengalami peningkatan rata-rata sebesar 2,11 persen. Berdasarkan Tabel 2, konsumsi daging sapi pada tahun 1992 adalah sebesar 163.929 ton, pada tahun 1993 berubah menjadi 177.532 ton atau naik sebesar 8,29 persen. Kenaikan terbesar terjadi pada tahun 1996. Konsumsi daging sapi pada tahun 1995 sebesar 182.333 ton, dibanding dengan konsumsi daging sapi tahun 1996 mengalami kenaikan sebesar 40.396 ton, atau naik sekitar 22,15 persen menjadi 222.729 ton
Tabel 2. Konsumsi Daging di Indonesia
Sumber : BPS, 2007 (diolah)
Tahun
Konsumsi Daging Domestik
(ton)
Perubahan (%)
1990
176.220,00
-
1991
152.431,00
-13.50
1992
163.929,00
7,54
1993
177.532,00
8,29
1994
175.859,00
-0,94
1995
182.333,00
3,68
1996
222.729,00
22,15
1997
253.168,00
13,66
1998
227.395,53
-10,18
1999
225.761,08
-0,71
2000
250.476,47
10,94
2001
208.104,37
-16,91
2002
209.022,38
0,44
2003
212.267,49
1,55
2004
241.339,38
13,69
2005
227.108,70
-5,89
Rata-rata
2,11
Konsumsi daging sapi di Indonesia yang cenderung naik tiap tahunnya ini disebabkan oleh meningkatnya jumlah penduduk dan meningkatnya pendapatan. Jumlah penduduk Indonesia berdasarkan Tabel 3, pada tahun 1990 sebesar 178.170.000 jiwa dan pada tahun 2005 mengalami kenaikan jumlah menjadi
33
221.251.000 jiwa atau bertambah sebesar 43.081.000 jiwa dalam kurun waktu 15 tahun.
Pendapatan per kapita per bulan berdasarkan Tabel 3, pada tahun 1990 sebesar Rp 1.269.280 dan pada tahun 2005 mengalami kenaikan jumlah menjadi Rp 3.171.490 atau meningkat sebesar 149,86 persen dalam kurun waktu 15 tahun. Hal tersebut sesuai dengan penelitian Khoirunissa (2008) dan Indarsyah (2006) yang menyatakan meningkatnya pendapatan dan jumlah populasi akan meningkatkan jumlah konsumsi atau permintaan.
Tabel 3. Jumlah Penduduk dan Pendapatan per Kapita di Indonesia
Sumber : BPS, 2007 (diolah)
Tahun
Jumlah Penduduk
(000 jiwa)
Pendapatan per Kapita per Bulan
( rupiah)
Pendapatan setelah Indeks Harga Konsumen
(Rupiah)
1990
178.170
1.269.280
-
1991
181.256
1.385.740
1.349.059
1992
184.491
1.482.520
1.448.014
1993
187.589
1.792.460
1.735.114
1994
190.676
1.878.710
1.820.649
1995
193.486
2.067.210
1.990.937
1996
196.480
2.274.660
2.206.073
1997
199.837
2.522.150
2.449.974
1998
202.873
3.092.040
2.391.350
1999
205.915
2.484.490
2.131.512
2000
206.533
3.056.110
2.948.888
2001
208.901
2.821.420
2.530.376
2002
212.003
2.796.420
2.471.318
2003
215.276
2.947.150
2.717.670
2004
218.268
3.044.590
2.817.291
2005
221.251
3.171.490
2.763.489
Rata-rata
2.380.403
2.251.448
Produksi Daging Sapi di Indonesia
Produksi daging sapi selama periode 1990 hingga 2005 secara umum mengalami peningkatan rata-rata sebesar 132,82 persen. Berdasarkan Tabel 4, produksi daging sapi pada tahun 1991 adalah sebesar 10.910,70 ton pada tahun 1992 berubah menjadi 12.022,40 ton atau naik sebesar 10.18 persen. Kenaikan terbesar terjadi pada tahun 1993. Dibanding dengan produksi daging sapi pada tahun 1992
34
yaitu sebesar 12.022,40 ton produksi daging sapi tahun 1993 mengalami kenaikan sebesar 254.724,70 ton atau naik sekitar 2.118,75 persen menjadi 266.747,10 ton.
Tabel 4. Produksi dan Impor Daging Sapi di Indonesia
Tahun
Produksi Daging Domestik
(ton)
Perubahan (%)
Impor Daging
(ton)
Perubahan (%)
1990
9.825,65
-
1.422.00
-
1991
10.910,70
11,04
1.867,00
31,29
1992
12.022,40
10,19
3.149,00
68,66
1993
266.747,10
2118,75
3.050,00
-3,14
1994
254.712,50
-4,51
4.799,00
57,34
1995
259.904,30
2,04
7.259,00
51,26
1996
319.603,20
22,97
15.773,00
117,28
1997
293.143,60
-8,28
25.704,00
62,96
1998
218.581,73
-25,44
8.813,80
-65,71
1999
215.208,18
-1,54
10.552,90
19,73
2000
223.514,17
3,86
26.962,30
155,49
2001
191.587,77
-14,28
16.516,60
-38,74
2002
197.548,58
3,11
11.473,80
-30,53
2003
201.596,09
2,05
10.671,40
-6,99
2004
229.567,38
13,88
11.772,00
10,31
2005
209.400,97
-8,79
17.707,73
50,42
Rata-rata
141,67
31,98
Sumber : BPS, 2007 (diolah)
Produksi daging domestik yang cenderung naik tiap tahunnya disebabkan oleh peningkatan jumlah konsumsi daging, meskipun produksi daging domestik meningkat namun tetap saja tidak dapat menyesuaikan laju konsumsi sehingga impor tetap dilakukan. Jumlah impor pada Tabel 4, secara umum cenderung meningkat setiap tahunnya, bahkan pada tahun 2000 impor mengalami kenaikan hingga 155,49 persen dari tahun sebelumnya, yang merupakan impor tertinggi.
Model Penduga Permintaan Daging
Model ekonometrika dalam penelitian ini menggunakan metode pendugaan ordinary least square (OLS) pada software Eviews 4.1. Untuk memenuhi asumsi pada model maka dilakukan beberapa uji terhadap model tersebut. Uji yang dilakukan adalah uji kriteria statistik yang meliputi uji F, uji t-statisik, dan uji R-square, uji kriteria ekonometrika yang meliputi uji normalitas, uji autokorelasi, dan
35
uji heteroskedastisitas, kemudian uji yang terakhir adalah uji kriteria ekonomi yang disesuaikan dengan teori ekonomi yang berlaku.
Tabel 5. Penduga Parameter Model Permintaan Daging Sapi
Variabel
Koefisien
Probabilitas
Elastisitas**
Konstanta (C)
-213774,5
0,5346*
Harga Daging Domestik (HDD)
-4,484981
0,0949*
-0,39
Harga Ikan (HI)
4,901571
0,0917*
0,195
Pendapatan per Kapita (PPK)
36,49792
0,0527*
0,42
Jumlah Penduduk Indonesia (JPI)
1,870733
0,0740*
R-squared
0,791912
F-statistik
10,46554
Adjusted R-squared
0,716243
Prob (F-statistik)
0,000953
*Signifikan pada P < 0,1
**perhitungan pada lampiran 8
Uji statistik meliputi uji R-square, uji F, dan uji t-statistik, berdasarkan hasil pada Tabel 5 didapatkan bahwa nilai R-square sebesar 0,791912 yang berarti bahwa variabel tidak bebas (dependen) yaitu permintaan daging dapat dijelaskan secara serenak oleh variabel-variabel bebasnya (independen) yaitu harga daging domestik, harga ikan, pendapatan per kapita dan jumlah penduduk sebesar 79,9 persen. Sedangkan sisanya sebesar 20,1 persen dijelaskan oleh faktor-faktor lain yang tidak masuk kedalam model.
Hasil uji F berdasarkan Tabel 5, didapatkan semua variabel independen secara bersama-sama mempunyai pengaruh yang sangat signifikan terhadap perubahan jumlah permintaan daging karena nilai Prob (F-stat) = 0,000953 yang memiliki nilai lebih kecil dari taraf nyata yang digunakan yaitu 10 persen.
Hasil uji t menunjukkan bahwa semua variabel independen yang masuk kedalam model diindikasikan masing-masing berpengaruh secara signifikan terhadap variabel dependen nya karena nilai probabilitas nya lebih kecil dibandingkan taraf nyata yang digunakan yaitu (α=10%). Untuk variabel HDD nilai probabilitas = 0.0949 < α = 0,1, variabel HI nilai probabilitas = 0,0917 < α = 0,1, variabel PPK nilai probabilitas = 0,0527 < α = 0,1, variabel JPI nilai probabilitas = 0,074 < α = 0,1.
Uji ekonometrik meliputi uji autokorelasi, normalitas, dan heteroskedastisitas. Ada tidaknya autokorelasi dapat diketahui melalui serial correlation LM test. Hasil pengujian autokorelasi pada model permintaan daging didapatkan bahwa nilai probability obs*R-square nya sebesar 0,152438 (lampiran 2) yang berarti lebih besar dari (α = 0,1) sehingga dapat disimpulkan bahwa model 36
permintaan daging lolos dari ada gejala autokorelasi. Kemudian uji normalitas, uji ini dilakukan untuk mendeteksi apakah nilai residual dari model regresi berdistribusi normal atau tidak. Dari hasil histogram-normality test pada lampiran 8 diperoleh nilai probabilitas Jarque-Bera = 0,485368 atau lebih besar dari α = 0,1 sehingga residual terindikasikan berdistribusi normal
Kriteria selanjutnya dalam uji ekonometrika adalah heteroskedastisitas, ada tidaknya heteroskedastisitas. Berdasarkan hasil pengujian pada model diperoleh nilai obs*R-square sebesar 0,366596 (lampiran 3), artinya nilai tersebut labih besar dari taraf nyata (α = 0,1), sehingga dapat disimpulkan bahwa model persamaan mempunyai variabel pengganggu yang variannya sama (homoskedastis). Karena jika nilai obs*R-square nya lebih kecil dari (α = 0,1) maka model tidak lolos dari keberadaan heteroskedastisitas.
Uji ekonomi dilakukan dalam rangka menyesuaikan model pendugaan permintaan daging dengan teori permintaan. Keseuaian model dengan teori permintaan dapat dilihat dari nilai koefisien variabel-variabel independen nya.
Pada Tabel 5 diketahui bahwa koefisien variabel harga daging domestik (HDD) bernilai negatif terhadap permintaan daging sapi (YD), artinya jika harga daging domestik turun maka permintaan terhadap daging akan meningkat, hal tersebut sesuai dengan teori permintaan. Selanjutnya masih pada Tabel 5 didapatkan bahwa nilai koefisien variabel harga ikan (HI) bernilai positif terhadap YD, artinya jika harga ikan sebagai barang substitusi daging mengalami kenaikan maka permintaan akan daging akan terus meningkat karena harga ikan yang tinggi, hal tersebut juga telah sesuai dengan teori permintaan.
Nilai koefisien variabel pendapatan per kapita penduduk Indonesia (PPK) berdasarkan hasil dalam Tabel 5 bernilai positif terhadap YD, berarti permintaan terhadap daging akan mengalami peningkatan seiring dengan naiknya pandapatan per kapita penduduk Indonesia. Dan variabel terakhir yang mempengaruhi permintaan daging adalah jumlah penduduk Indonesia (JPI), hasil yang didapatkan berdasarkan tabel 2 bahwa koefisien nya bernilai positif artinya jika jumlah penduduk bertambah maka permintaan akan daging juga akan meningkat
37
Analisis Model Permintaan
Hasil analisis model regresi linier yang diperoleh dari Tabel 5 adalah sebagai berikut:
YD = – 213774,5 – 4,48HDD + 4,9HI + 36,49PPK + 1,87JPI
Model tersebut memberikan gambaran bahwa permintaan daging (YD) dipengaruhi oleh harga daging domestik (HDD), harga ikan (HI), pendapatan per kapita (PPK) dan juga jumlah penduduk (JPI).
Harga Daging Domestik
Berdasarkan hasil penelitian pada Tabel 5, koefisien harga daging sebesar -4,48 menunjukkan bahwa jika harga daging domestik turun sebesar seribu rupiah/ton maka permintaan akan meningkat sebesar 4,48 ton. Sedangkan nilai elastisitas harga daging sapi terhadap permintaan daging sapi diperoleh sebesar – 0,39. Angka ini berarti bahwa apabila harga daging sapi turun sebesar 10%, maka akan menyebabkan perubahan terhadap jumlah daging sapi yang diminta bertambah sebesar 3,9%. Demikian pula sebaliknya apabila harga daging sapi naik sebesar 10% maka akan menyebabkan perubahan terhadap jumlah daging sapi yang diminta berkurang sebesar 3,9%. Nilai elastisitas harga daging sapi yang diperoleh antara nol sampai satu, menandakan bahwa permintaan daging sapi bersifat inelastis atau dengan kata lain persentase perubahan jumlah daging sapi yang diminta lebih kecil dari pada perubahan harga daging sapi.
Permintaan daging sapi masyarakat Indonesia bersifat inelastis, artinya perubahan harga yang relatif besar hanya sedikit merubah permintaan. Hal tersebut terjadi karena sebagian besar penduduk Indonesia meningkatkan permintaan terhadap daging sapi hanya pada saat-saat tertentu seperti ketika hari besar keagamaan yaitu Lebaran, Natal, dan Tahun Baru. Pada saat tersebut peningkatan harga seberapapun besarnya, masyarakat akan tetap membeli daging sapi, karena hal tersebut telah menjadi tradisi sebagian besar masyarakat Indonesia. Harga daging domestik secara nyata juga mempengaruhi permintaan daging karena menentukan banyak tidaknya jumlah daging yang diminta.
38
Harga Ikan
Harga ikan yang dimaksud disini adalah harga ikan yang dimasukkan kedalam variabel independen yang diduga mempengaruhi permintaan daging karena ikan dalam penelitian ini diduga sebagai barang substitusi dari daging sapi. Pratiwi (2002) menyatakan bahwa hubungan antara harga daging dan harga telur bersifat komplementer, oleh karena itu disini peneliti menggunakan harga ikan sebagai salah satu faktor yang menentukan jumlah permintaan daging. Ikan dimasukkan kedalam salah satu faktor yang mempengaruhi permintaan karena Indonesia adalah negara maritim dan banyak penduduknya tinggal di daerah pantai, sehingga ikan dikonsumsi lebih banyak.
Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa harga ikan pada taraf nyata α = 10% berpengaruh nyata terhadap permintaan daging. Tabel 5 menunjukkan koefisien harga ikan sebesar 4,90 menunjukkan bahwa jika harga ikan naik sebesar seribu rupiah/ton maka permintaan daging sapi akan meningkat sebesar 4,90 ton. Elastisitas harga ikan atau HI memiliki nilai 0,195, hal tersebut berarti bahwa jika harga ikan naik sebesar sepuluh persen maka permintaan daging sapi akan meningkat sebesar 1,95 persen ceteris paribus, hal tersebut terjadi karena konsumen akan cenderung membeli daging sapi karena harga ikan sebagai substitusi nilainya tinggi. Nilai elastisitas yang positif juga menunjukkan bahwa antara daging sapi dengan ikan memiliki hubungan substitusi, hal tersebut sesuai dengan hipotesa awal.
Pendapatan per Kapita
Pendapatan per kapita jika mengalami perubahan maka akan berpengaruhi terhadap permintaan daging. Tabel 5 menunjukkan koefisien pendapatan per kapita sebesar 36,49 menunjukkan bahwa jika pendapatan per kapita naik sebesar satu juta rupiah per bulan maka permintaan akan meningkat sebesar 36,49 ton. Nilai elastisitas pendapatan terhadap permintaan diperoleh nilai sebesar 0,42 nilai tersebut lebih kecil dari satu. Hal ini berarti bahwa permintaan daging sapi bersifat inelastis terhadap perubahan pendapatan atau dengan kata lain persentase perubahan pendapatan tidak responsif terhadap permintaan daging sapi.
Permintaan daging sapi bersifat inelastis terhadap perubahan pendapatan karena pendapatan rata-rata pendapatan penduduk Indonesia masih relatif rendah, sehingga perubahan pendapatan yang relatif rendah tersebut belum mampu
39
meningkatkan permintaan masyarakat terhadap daging sapi. Permintaan terhadap daging sapi hanya mengalami peningkatan hanya pada waktu-waktu tertentu saja seperti saat lebaran, natal, dan tahun baru.
Jumlah Penduduk
Jumlah penduduk suatu wilayah dalam teori ekonomi mempunyai pengaruh positif terhadap permintaan. Ketika jumlah penduduk suatu wilayah bertambah banyak akan menyebabkan permintaan suatu komoditi meningkat. Hasil penelitian yang ditunjukkan pada Tabel 5 diketahui bahwa nilai koefisien variabel jumlah penduduk atau JPI nilainya positif sebesar 1,87 menunjukkan bahwa jika jumlah penduduk naik sebesar seribu jiwa maka permintaan akan meningkat sebesar 1,87 ton. Hal tersebut sesuai dengan hipotesis yang diharapkan yaitu jika jumlah penduduk bertambah maka akan semakin banyak masyarakat yang mengkonsumsi daging sehingga akan meningkatkan permintaan daging.
Model Penduga Penawaran Daging
Model penawaran daging dalam penelitian ini mengunakan metode ordinary least square (OLS) pada software Eviews 4.1. Uji yang dilakukan agar model memenuhi syarat juga sama seperti yang dilakukan pada model permintaan yaitu meliputi uji kriteria statistik, ekonometrika, dan kriteria ekonomi.
Tabel 6. Penduga Parameter Model Penawaran Daging Sapi
Variabel
Koefisien
Probabilitas
Elastisitas**
Konstanta (C)
-37587,72
0,3918
Harga Daging Domestik (HDD)
2,886716
0,0091*
0,087
Produksi Daging Domestik (PDD)
0,981402
0,0000*
Harga Sapi (HS)
-8,753429
0,0192*
-0,084
Jumlah Populasi Sapi (JPS)
0,004530
0,0538*
R-squared
0,998292
F-statistik
1606,906
Adjusted R-squared
0,997670
Prob (F-statistik)
0,000001
*Signifikan pada P < 0,05
**perhitungan pada lampiran 8
40
Hasil pada Tabel 6 diketahui bahwa nilai R-square nya sebesar 0,998292 artinya dalam model persamaan, variasi variabel dependen (penawaran daging) dapat dijelaskan secara linier oleh variabel bebasnya di dalam persamaan yaitu harga daging domestik, produksi daging dalam negeri, harga sapi, dan populasi sapi sebesar 99,82 persen. Sedangkan sisanya yang 0,18 persen dijelaskan oleh faktor-faktor lain diluar persamaan. Nilai prob (F-stat) = 0,000001 atau lebih kecil dari taraf nyata yang digunakan yaitu sebesar lima persen (0,05). Nilai tersebut menandakan bahwa model yang digunakan telah sesuai, dengan kata lain variabel independen secara bersama-sama mampu menjelaskan variabel dependen pada tingkat signifikansi lima persen. Nilai probabilitas keempat faktor yang mempengaruhi penawaran daging masing-masing adalah : variabel HDD = 0,0091, variabel PDD = 0,0000, variabel HS = 0,0192, dan variabel PS = 0,0538. faktor-faktor tersebut dinyatakan berpengaruh nyata karena nilai probabilitas yang lebih kecil dari nilai α = 5%.
Hasil uji ekonometrik pada persamaan penawaran daging didapatkan hasil bahwa persamaan tidak memiliki masalah autokorelasi, heteroskedastisitas, dan normalitas. Pengujian autokorelasi dengan program eview didapatkan nilai probability obs*R-square = 0,340613 (lampiran 4), lebih besar dari taraf nyata yang digunakan yaitu lima persen, artinya model tidak mengalami masalah autokorelasi.
Pada persamaan disimpulkan nilai residual berdistribusi secara normal, hal tersebut diketahui dari nilai probabilitas dari Jarque-Bera yang sebesar 0,535765 (lampiran 9). Nilai residual berdistribusi normal karena lebih besar dari taraf nyata yang digunakan yaitu lima persen.
Dari uji heteroskedastisitas yang dilakukan terhadap model, didapatkan nilai probability obs*R-square sebesar 0,148045 (lampiran 5), lebih besar dari taraf nyata yang digunakan yaitu lima persen. Maka model persamaan tidak memiliki masalah heteroskedastisitas.
Uji ekonomi dapat dilakukan dengan melihat model regresi linier nya. Model regresi linier penawaran daging sapi didapatkan hasil bahwa harga daging domestik, produksi daging domestik, dan jumlah populasi sapi memiliki nilai koefisien yang positif. Artinya jika ketiga hal tersebut naik maka akan meningkatkan jumlah permintaan. Sementara koefisien harga sapi bernilai negatif, artinya jika ada 41
penurunan harga sapi sebagai input produksi maka penawaran daging akan meningkat.
Analisis Hasil Model Penawaran
Hasil analisis model regresi linier yang diperoleh dari Tabel 6 adalah sebagai berikut:
YS = – 37587,72 + 2,88HDD + 0,98PDD – 8,75HS + 0,004JPS
Model tersebut memberikan gambaran bahwa penawaran daging (YS) dipengaruhi oleh harga daging domestik (HDD), produksi daging domestik (PDD), harga sapi (HS) dan juga jumlah populasi sapi (JPS).
Harga Daging Domestik
Tabel 6 menunjukkan koefisien harga daging domestik sebesar 2,88 menunjukkan bahwa jika harga daging domestik naik sebesar seribu rupiah/ton maka penawaran akan meningkat sebesar 2,88 ton. Nilai koefisien yang sifatnya postif tersebut sesuai dengan teori ekonomi, yaitu ketika harga daging domestik naik maka peternak akan banyak memproduksi daging sehingga mengakibatkan penawaran yang tinggi, dan sebaliknya jika harga daging domestik rendah maka peternak cenderung beralih kepada komoditi lain untuk diproduksi sehingga penawaran daging akan rendah.
Pada Tabel 6 juga diketahui bahwa harga daging domestik mempunyai nilai elastisitas sebesar 0,087 terhadap penawaran daging sapi. Artinya jika harga daging sapi domestik mengalami kenaikan sebesar sepuluh persen maka penawaran daging sapi akan mengalami peningkatan sebesar 0,87 persen, ceteris paribus. Nilai yang hanya sebesar 0,087 (inleastis) terjadi karena proses penggemukan (produksi) sapi untuk menghasilkan daging memerlukan waktu yang tidak singkat, sehingga dengan meningkatnya harga daging sapi tidak memiliki respon yang elastis terhadap penawaran daging sapi.
Produksi Daging Domestik
Produksi daging domestik yang dimaksud disini adalah jumlah daging yang diproduksi oleh peternak rakyat dan industri peternakan. Tabel 6 menunjukkan koefisien produksi daging bernilai positif sebesar 0,98 terhadap penawaran daging, dimana jika terjadi kenaikan nilai produksi daging domestik sebesar satu ton maka
42
penawaran daging akan meningkat 0,98 ton. Hal tersebut sesuai dengan teori yang menyatakan bahwa tingginya produksi suatu barang akan meningkatkan volume penawaran, begitu juga sebaliknya.
Harga Sapi
Sapi sebagai input dari proses produksi daging memiliki pengaruh yang signifikan terhadap penawaran daging. Tabel 6 menunjukkan koefisien harga sapi sebesar 8,75 menunjukkan bahwa jika harga sapi turun sebesar seribu rupiah/ton maka penawaran akan meningkat sebesar 8,75 ton. Berdasarkan Tabel 6 diketahui pula nilai elastisitas harga sapi sebesar -0,084, hal tersebut menunjukkan jika harga sapi sebagai input produksi turun sepuluh persen maka penawaran daging akan naik sebesar 0,84 persen ceteris paribus dan sebaliknya.
Nilai elastisitas yang tidak elastis antara harga sapi terhadap penawaran daging sapi juga disebabkan oleh proses penggemukan sapi yang memerlukan waktu tidak sebentar, sehingga respon yang terjadi tidak elastis. Hubungan negatif antara harga sapi terhadap penawaran juga sesuai dengan teori ekonomi dimana penawaran suatu barang akan meningkat jika harga inputnya turun ceteris paribus.
Jumlah Populasi Sapi
Tabel 6 memperlihatkan bahwa nilai koefisien populasi sapi bernilai positif terhadap penawaran daging sebesar 0,004. Angka ini menunjukkan setiap ada kenaikan jumlah populasi sapi sebesar satu ekor akan diikuti dengan kenaikan penawaran daging sapi sebesar 0,004 ton. Berarti penawaran daging sapi akan meningkat seiring dengan bertambahnya jumlah populasi sapi.
43
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat diambil dari penelitian ini adalah :
1. Permintaan daging sapi di Indonesia dipengaruhi oleh harga daging domestik, harga ikan, pendapatan per kapita, dan jumlah penduduk.
2. Penawaran daging sapi di Indonesia dipengaruhi oleh harga daging domestik, produksi daging dalam negeri, harga sapi, dan populasi sapi dalam negeri.
3. Permintaan daging sapi bersifat inelastis terhadap harga ikan, pendapatan, dan harga daging sapi. Sedangkan penawaran daging sapi juga bersifat inelastis terhadap harga daging sapi dan harga sapi.
Saran
Dalam upaya memenuhi kebutuhan permintaan daging dalam negeri pemerintah hendaknya meningkatkan produksi daging domestik dengan cara meningkatkan faktor-faktor produksi agar swasembada daging dapat terpenuhi.
44
UCAPAN TERIMA KASIH
Segala puji dan syukur hanya kepada Allah SWT yang telah memberikan segala nikmatNya sehingga skripsi ini dapat selesai, sholawat dan salam senantiasa tak lupa saya panjatkan kepada Nabi Muhammad SAW para keluarga, sahabat, dan pengikutnya.
Pada kesempatan kali ini penulis ingin sekali menyampaikan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:
1. Ibu, bapak, dan adik-adikku (Dara, Deri) serta seluruh keluarga yang telah memberikan perhatian, semangat, doa, dan segala dukungan hingga akhirnya skripsi ini dapat selesai.
2. Ibu Dr. Ir. Sri Mulatsih, MSc Agr sebagai dosen pembimbing utama dan Bapak Ir. Burhanuddin, MM sebagai dosen pembimbing anggota atas segala bimbingan, ilmu, nasihat, motivasi yang senantiasa diberikan ketika penulis sedang menyelesaikan skripsi ini.
3. Ibu Ir. Lucia Cyrilla ENSD, MSi sebagai dosen penguji seminar dan sidang yang telah memberikan begitu banyak saran dan masukan terhadap perbaikan skripsi ini.
4. Bapak Bramada W Putra, SPt sebagai dosen penguji sidang yang telah bersedia meluangkan waktu dan memberikan saran dan masukan terhadap perbaikan skripsi ini.
5. Seluruh Staff FAPET dan SEIP IPB (Bu Cici, Pa Dodi, Pa Kamto, Pa Tris, dan Pa Tibyan) terima kasih atas bantuannya dalam mengurus segala administrasi sampai skripsi ini selesai.
6. Sobat satu bimbingan Sandy Nugroho dan Rika (FEM) yang telah bersama-sama banyak mengajarkan penulis dalam mengerjakan metode penelitian.
7. Teman-teman Tim VCA project (Jemi, Ramah, Joko, Pa Yatno, Mba Ria, Pa Asep, Bu lanjar) yang selama satu bulan terakhir banyak menyemangati penulis ketika kita sedang bekerja bersama-sama.
8. Teman-teman Pd Al-Ihsan K’Khrisma, Bang Efal, Helmi, Ijal, Fauzan, Rudy, K’Wisnu yang telah bersama-sama melewati hidup dalam satu kosan selama setahun terakhir.
45
9. Sahabat-sahabat SEIP angkatan 41 Yoga, Fahmi, Heri, Zico, Nawi, Mahmud, Eko, Galih, Azis, Toni, Didik, Fiyan, Mima, Mira, Mita, Cablak, Risza, Ani, Sarah, Ocha, Ayu, Elly dll, yang telah bersama-sama kurang lebih 4 tahun ini bersama-sama dalam keluarga SEIP angkatan 41, kalian yang terbaik.
Bogor, Maret 2009
Penulis 46
DAFTAR PUSTAKA
Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. 2005. Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis: Rangkuman Kebutuhan Investasi. Departemen Pertanian Republik Indonesia. Jakarta
Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. 2005. Rencana Aksi Pemantapan ketahanan Pangan 2005-2010. Departemen Pertanian Republik Indonesia. Jakarta
Direktorat Jenderal Peternakan. 2003. Statistik Peternakan. Departemen Pertanian, Jakarta.
Direktorat Jenderal Peternakan. 2006. Statistik Peternakan. Departemen Pertanian, Jakarta.
Direktorat Jenderal Peternakan. 2007. Statistik Peternakan. Departemen Pertanian, Jakarta.
Idaman, Northa. 2008. Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Penawaran dan Permintaan Benih Ikan Nila di Kabupaten Sukabumi Propinsi Jawa Barat. Skripsi. Progeam Studi Manajemen Agribisnis. Fakultas Pertanian. Institut Pertanian Bogor.
Indarsyah, Y. 2006. Analisis permintaan daging ayam broiler pada konsumen keluarga di Kecamatan Pamulang Tangerang. Skripsi. Progam Studi Sosial Ekonomi Peternakan. Fakultas Peternakan. Institut Pertanian Bogor. Bogor
Khoirunissa. 2008. Analisis permintaan daging ayam broiler konsumen keluarga di Kecamatan Pancoran Mas Kota Depok. Skripsi. Progam Studi Sosial Ekonomi Peternakan. Fakultas Peternakan. Institut Pertanian Bogor. Bogor
Lawrie, R.A. 2003. Ilmu Daging. Terjemahan: Parakkasi. Penerbit Universitas Indonesia Press. Jakarta.
Lipsey, R.G, Paul N. Courant, D. Purvis, dan P.O. Steiner. 1995. Ekonomi Mikro. Binarupa Aksara. Jakarta
McConnell, C.R. and Brue, S.L. 1990. Microeconomics. McGraw-Hill Publishing Company. United State of America.
Pane, I. 1993. Pemuliabiakkan Ternak Sapi. PT Gramedia Pustaka Utama. Jakarta
Pratiwi, Liestyorini Dyah. Pola konsumsi daging dan telur rumah tangga di Kabupaten Rembang Jawa Tengah. Skripsi. Sosial Ekonomi Industri Peternakan. Fakultas Peternakan. Institut Pertanian Bogor. Bogor
47
Samuelson, P.A and Nordhaus, W.D. 2003. Ilmu Mikroekonomi Edisi 17. Terjemahan: Nur Rosyidah, Anna Elly, dan Bosco Carvallo. PT Media Global Edukasi. Jakarta
Sarwono, B dan H. B. Arianto. 2003. Penggemukan Sapi Potong Secara Cepat. Penebar Swadaya. Jakarta
Sukirno, S. 1995. Pengantar Teori Mikroekonomi. PT Raja Grafindo Perkasa. Jakarta
Suryani, Titin. 2006. Permintaan dan Penawaran Daging Ayam Broiler di Indonesia. Skripsi. Program Studi Manajemen Agribisnis. Fakultas Peternakan. Institut Pertanian Bogor
48
sumber: http://repository.ipb.ac.id/bitstream/handle/123456789/11198/D09aha.pdf?sequence=2